….“Tsunami Kecil” Situ Gintung…..Keprihatinan….Kesempatan…


Musibah yang terjadi pada jumat dini hari lalu, meninggalkan banyak duka dan cerita. Kejadian yang sangat begitu cepat dan tiba-tiba. Mungkin bisa disamakan dengan tsunami walaupun skalanya lebih kecil. Warga yang tinggal dan bermukim disekitar situ itu tentu kaget, bingung dan panic mendapati dirinya sudah berada dalam genangan air bah yang sangat besar.

Mereka tidak sempat untuk bersiap-siap menyelamatkan diri lagi. Mereka mungkin hanya berpikir dan berusaha untuk mencari lokasi aman. Berusaha menjauh dan berharap musibah ini segera cepat berakhir.

Disebut tsunami kecil karena kejadiannya mirip dengan tsunami yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Musibah yang terjadi karena factor utamanya adalah air dengan kejadian yang sangat cepat. Cuma mungkin yang membedakan dengan tsunami adalah awal penyebabnya. Seperti diberitakan bahwa jauh hari sebelum musibah ini terjadi, sudah banyak laporan dari masyarakat tentang kondisi situ yang sudah tua dan mengkhawatirkan.

Tapi apa yang mereka laporkan tidak didengar sedikitpun oleh pihak terkait. Mereka Cuma bilang kalau factor biaya yang selalu menjadi alasan. Ketika musibah benar-benar terjadi barulah saling tuding siapa yang bertanggungjawab.

Dan kalau memang benar sebelumnya ada laporan tentang kondisi waduk tersebut, kita seharusnya miris. Kok pejabat kita ga ada yang prihatin mendapat laporan yang akibatnya dikemudian hari sangat membahayakan. Saat itu para pejabat kita hanya berpikir ga mungkin akan terjadi sesuatu musibah yang terjadi seperti sekarang ini.

Dimana tanggungjawab mereka? Atau kepedulian mereka sudah habis?

Baru setelah kejadian, semuanya pada teriak prihatin, bersuara tentang kepedulian dan berceloteh bahwa ini kemanusiaan.

Belum lagi momen ini dimanfaatkan oleh para calon wakil rakyat kita untuk menarik simpati dengan membawa sejuta alasan kemanusiaan. Mengambil kesempatan agar dikenal dermawan dan memiliki jiwa kepedulian social yang tinggi. Okelah..mudah-mudahan alasan itu benar. Tapi yang mungkin membingungkan adalah kok baru sekarang memiliki jiwa yang suci itu.

Bagi para calon wakil rakyat yang baru, mungkin alasan itu bisa dibenarkan. Tapi bagi wakil rakyat yang sekarang lagi eksis dan berusaha untuk mencalonkan diri lagi, kemana aja selama ini. Kan katanya tugas wakil rakyat untuk memantau jalannya pemerintahan dan pembangunan, mendengarkan keluhan rakyatnya. Apakah mereka tidak tau, lupa, ndak mau tau atau yang sejenisnya.

Atau jangan-jangan memang benar kalau musibah ini merupakan sebuah kesempatan dengan mencoba untuk prihatin agar bisa menarik simpati…..

Kesempatan…kesempatan…dan kesempatan… adalah mahal harganya kata orang bijak…

Kalau saja kesempatan warga waktu melaporkan tentang kondisi waduk ditanggapi dengan sebuah keprihatinan….insyaAllah…kejadian ini bisa dihindari. Memang musibah ada yang mengatur, tapi kan ga ada salahnya kalau kita berusaha. Paling tidak ada kesempatan untuk mencegah, kesempatan untuk memperbaiki, kesempatan terhindar dari bahaya. Dan yang jelas kesempatan untuk bertanggungjawab dan mengabdi terhadap amanah dari rakyatnya bagi para pejabat.

Tapi yang jelas dengan musibah ini, kita masih diberikan kesempatan dari Sang Maha Kuasa untuk sadar dan berpikir jangan menyia-nyiakan kesempatan. Serta tetap harus prihatin terhadap apapun. Ya paling nggak seperti kata pepatah klasik bahwa kejadian ini pasti ada hikmahnya….Amiinnnn….

Senin, 2009 Maret 30 – 04:07

0 komentar: